Dari Allah

Kita meteraikan dan goreskan di dalam hati kita, sedalam-dalamnya, dan kita mau terus membangkitkannya di dalam pikiran bahwa kehidupan ini bukanlah milik kita. Hanya Allah yang bisa menciptakan dari apa yang tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Kehidupan ini bukan dari siapa-siapa, tapi dari Allah. Yang Alkitab sebut sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dialah yang Empunya kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam Doa Bapa Kami, Tuhan kita Yesus Kristus mengajarkan kalimat: “Karena Engkaulah yang Empunya kuasa, kerajaan, kemuliaan sampai selama-lamanya.” Kehidupan adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Tetapi Tuhan berkenan memercayakannya kepada kita untuk kita jalani. Tentu kita harus menjalaninya sesuai dengan kehendak Dia. Di dalam kehidupan itu, ada hak dan kewajiban. Karenanya, kita harus menjalaninya dengan bijaksana. Ada hak yang boleh kita nikmati, tapi ada kewajiban yang harus dipenuhi. Hak adalah anugerah, tetapi kewajiban juga memuat anugerah, jika kita jalani. 

Dan jikalau kewajiban kita jalani, maka hak yang Tuhan berikan bisa kita nikmati secara maksimal. Karena kehidupan milik Tuhan—dan kita adalah makhluk yang dipercayai untuk menjalani kehidupan tersebut dimana kita harus menjalaninya sesuai dengan kehendak Allah—maka kita harus menjalaninya guna memenuhi apa yang Allah rencanakan. Sebab ketika Allah menciptakan kehidupan, tentu Ia memiliki tujuan. Hidup tidak gratis, tetapi ada pertanggungan jawab. Dalam Roma 14:12 dan Ibrani 4:3 memuat ayat-ayat yang menunjukkan bahwa kita harus memberikan pertanggungan jawab. Ironis, banyak manusia yang tidak mau mengerti hal ini. Dan memang kuasa kegelapan telah membutakan banyak orang sehingga mereka tidak mengerti hak dan tanggung jawabnya secara benar. Pada umumnya, orang merasa memiliki hak tanpa mempersoalkan dari mana hak tersebut. Dan mereka juga tentu tidak mempersoalkan kewajiban yang ada di dalamnya.

Sejatinya, pasti Tuhan mengingatkan mereka dengan segala cara. Tetapi kalau seseorang memang membuka hatinya terhadap suara lain, maka ia tidak mau dan tidak akan mengerti. Orang yang tidak mau mengerti kebenaran ini dan akhirnya memang tidak mengerti, merasa bahwa kehidupan ini adalah miliknya sendiri. Ia merasa berhak menggunakan sesuai dengan apa yang dia hasrati, dia ingini. Mulut kita ini sebenarnya milik Tuhan, dipercayakan-Nya kepada kita. Dengan metabolisme tubuh yang sempurna, hubungan antara otak dan mulut, otak dan seluruh anggota tubuh, Allah yang memiliki, menciptakan, dan mendesain sempurna. Mestinya tidak boleh digunakan sembarangan. Seperti seorang budak yang telah ditebus, dibeli, tapi tidak hidup untuk mengabdi kepada tuannya. Jadi, kiranya kita hari ini menyadari sesadar-sadarnya bahwa setiap kita harus menghadap takhta pengadilan Allah. 

Kuasa kegelapan berusaha untuk menutup-nutupi hal ini agar manusia melupakannya dan tidak memperhatikannya sama sekali. Dan memang faktanya, kalau kita melihat manusia pada umumnya atau hampir semua manusia tidak pernah memedulikan realita pengadilan Tuhan. Kita sendiri bisa terbawa oleh situasi dunia yang tidak memperkarakan adanya pengadilan Tuhan. Kita juga bisa menjadi ceroboh terhadap hidup kita. Tanpa disadari, kita menganggapnya sepele atau bukan masalah besar. Padahal, ini kecerobohan yang terbesar dalam hidup, ketika orang tidak memperkarakan hal pengadilan Tuhan bahwa ia harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan Allah. 

Kalau kita benar-benar memperkarakan hal pengadilan ini, kita akan serius setiap hari membawa diri kita di hadapan Allah untuk diterangi Tuhan. Kita mohon pimpinan Roh Kudus, seakan-akan dan memang bisa terjadi setiap saat, kita ada di hadapan pengadilan Tuhan. Jangan sampai ada sekecil apa pun kesalahan yang masih kita lakukan, sehalus apa pun dosa yang kita perbuat. Kita harus bisa membayangkan seakan-akan sudah ada di pengadilan Tuhan, dimana tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri. Kiranya kita tidak bisa tidur nyenyak sebelum memperkarakan hal ini. Kiranya kita tidak bisa tenang, damai rebah di pembaringan, sebelum menyelesaikan keadaan kita di hadapan Tuhan. Lakukanlah hal ini. Supaya tidak sia-sia kita menjadi orang Kristen. 

Jangan sekali-kali berpikir bahwa ketika kita menjelang tua, apalagi menjelang mati, baru kita mau bebenah atau beres-beres diri. Kalau kita tidak membiasakan diri bebenah, membereskan keadaan di hadapan Tuhan, maka kita tidak akan pernah bisa membereskan diri ketika ada di ujung maut. Dan kita tidak akan memiliki kepekaan untuk melihat keadaan kita yang sebenarnya. Memang ada semacam “seni memeriksa diri,” dan Roh Kudus akan menolong kita memiliki kecakapan memeriksa diri. Jangan ceroboh. Semua orang memang tidak ingin masuk neraka, tapi mereka tidak serius masuk surga. 

Kehidupan ini bukan dari siapa-siapa, tapi dari Allah.