Cerdas dan Teliti

Menurut seorang teknisi pesawat terbang, seorang teknisi pesawat terbang itu bukan saja harus memiliki kecerdasan atau kejeniusan yang tinggi, tetapi juga harus sekaligus memiliki ketelitian. Tidak boleh ceroboh, karena satu komponen tidak pada tempatnya bisa membuat pesawat jatuh. Jadi seorang teknisi pesawat terbang itu harus bukan saja cerdas tetapi sangat cerdas, genius, dan teliti. Karena tentu pesawat terbang memuat banyak penumpang dan beresiko tinggi di udara. Kalau mobil mogok, bisa parkir di pinggir jalan. Tetapi kalau pesawat mogok, mau parkir di mana kalau bukan jatuh ke laut, atau jatuh ke darat, kemudian hancur? Demi keselamatan pesawat terbang, seorang tehnisi pesawat terbang harus benar-benar jenius dan teliti. 

Demikian pula dengan hidup manusia yang memiliki kekekalan. Kita harus memikirkan hal ini dengan serius. Hidup kita ini seperti pesawat terbang yang nilainya lebih dari segala sesuatu, lebih dari seluruh harta dunia ini; jika harta dunia ini diwujudkan dalam bentuk sesuatu atau uang, tidak bisa membeli jiwa manusia. Maka kita harus benar-benar cerdas; cerdas secara rohani dan teliti. Teliti memperhatikan seluruh hidup kita. Sebab Allah berfirman, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Itu berarti kita harus memeriksa diri kita dengan sangat serius (saksama). Bertahun-tahun kita berpikir tidak mungkin orang bisa hidup suci atau sempurna, tetapi Tuhan sendiri berkata, “Kamu harus sempurna” (Mat. 5:48). Kita harus sempurna seperti Bapa. Segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan kita lakukan harus selalu sesuai dengan pikiran perasaan Allah. Kita harus teliti dan cerdas rohani memperhatikan setiap gerak pikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan kita. Mestinya kita juga bisa tahu apa yang bisa menghancurkan hidup kita, yang bisa membahayakan hidup kita, yang bisa membuat kita jatuh. 

Seorang teknisi pesawat terbang bukan saja harus cerdas, tetapi harus sangat cerdas, genius, dan teliti, demikian pula di dalam merawat hidup ini, harus teliti, harus cerdas, supaya jangan jatuh, jangan salah, jangan ada yang rusak. Bertahun-tahun kita berpikir ada banyak hal yang kita hadapi di dalam hidup ini yang tidak jelas. Tidak jelas uraiannya, tidak jelas maksudnya, apakah ini salah atau benar; jadi seperti benda misteri. Mestinya tidak. Segala sesuatu yang kita pikirkan, renungkan, ucapkan dan lakukan, mestinya bisa kita analisa. Ini salah atau benar, mestinya bisa diketahui. Sebab kalau hidup ini ternyata penuh dengan misteri, maka keberkenanan di hadapan Allah juga menjadi misteri. Lalu bagaimana dengan pernyataan Tuhan bahwa kita harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela itu, kalau banyak hal misteri? Apakah berarti Tuhan bohong, sebab manusia tidak mungkin sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, kalau banyak hal yang bersifat karena misteri. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Allah adalah Allah yang maha bijaksana, semua yang dikatakan ya dan amin. 

Oleh sebab itu kita harus bertekad untuk bisa meneliti segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Kalau sesuatu itu sesuai dengan kehendak Bapa, maka kita harus lakukan; jika tidak, maka kita harus tolak. Walaupun kita memiliki jejak rekam yang buruk, dan sampai saat ini pun mungkin juga masih banyak dosa, kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan, tetapi kita harus bulat, utuh, atau sempurna dalam tekad. Utuh, bulat dan sempurna dalam tekad untuk memiliki kehidupan yang tepat seperti yang Allah kehendaki. Belum sempurna dalam perbuatan, tetapi tidak menghalangi kita sempurna dalam tekad. Belum bulat bulat benar, tetapi bisa bulat dalam tekad, bulat di dalam kehendak, bulat dalam komitmen, bulat dalam janji dan bulat dalam kehendak. 

Bicara soal tekad dan niat, itu berangkat dari diri sendiri. Kita yang harus membulatkan tekad kita. Kita harus membarakan (membuat membara) niat kita untuk memiliki kehidupan yang benar-benar berkenan kepada Allah. Sekarang kita harus mulai serius memperhatikan segala sesuatu, karena kita pasti tahu apa yang baik, berkenan dan yang sempurna (Rm. 12:2). Kalau suatu hari nanti kita menghadap takhta pengadilan Kristus, kita didapati benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Banyak masalah yang kita hadapi, tetapi yang satu ini paling penting. Hari-hari ini kalau kita mengadakan kegiatan selalu di-check dulu pakai antigen, di-swab di tempat kerja, apakah hasilnya negatif atau positif COVID-19. Sebab kalau positif bahaya mengancam nyawa atau juga mengancam keselamatan orang lain, menjadi carrier (pembawa). Mengapa kita juga tidak swab tiap hari? Swab batin kita. Terus dicheck, ada dosa tidak? Kita serius memeriksa diri seperti swab tiap hari di hadapan Tuhan. Tentu Roh Kudus yang bisa me-swab kita, apakah ada virus atau bakteri di dalam hidup kita. Ini adalah langkah konkret bersiap-siap pulang.