Bunuh Diri

Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Sepertinya, kalimat ini sederhana dan mudah dipahami secara logis di dalam nalar. Tetapi di dalam perjalanan hidup yang kita jalani, ternyata hal ini bukan sesuatu yang sederhana. Benar-benar kompleks dan rumit. Karena di dalam proses dikembalikan ke rancangan Allah semula itu, kita harus memiliki pikiran dan perasaan yang selalu seiring dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga kehendak kita selalu sesuai dengan kehendak Allah. Betapa rumitnya, ketika hal ini diimplementasikan di dalam hidup. Karena kita, khususnya yang sudah terlanjur berusia lanjut, sudah membangun cara berpikir, gaya hidup, selera, nafsu, ambisi yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Walaupun melalui pendidikan budi pekerti, lingkungan yang baik, seseorang bisa baik, tetapi standar yang Allah kehendaki itu adalah kesucian-Nya. Kesucian Allah itu bukan dalam bentuk hukum-hukum, aturan-aturan, atau tatanan-tatanan moral, melainkan berangkat dari perasaan Allah sendiri.

Kita harus mengerti apa yang Dia rancang untuk kita lakukan dalam hidup ini. Inilah keselamatan itu, yang jika tidak diperjuangkan, tidak akan dialami. Banyak orang berusaha, tetapi tidak masuk. Itulah sebabnya di Filipi 2:5-7 firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus…” Dan itu menunjuk Yesus yang telah berhasil memiliki pikiran, perasaan Allah. Sehingga segala sesuatu yang dilakukan itu hanya untuk memenuhi apa yang Allah kehendaki dan menyelesaikan apa yang Bapa percayakan kepada Yesus untuk diselesaikan atau dikerjakan (Yoh. 4:34). “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Artinya tidak bersyarat. Lalu ayat yang ke-12, “… karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…” itu.

Maka, menjadi Kristen adalah perjuangan yang berat. Hidup kekristenan adalah perjuangan yang lebih berat dari segala perjuangan yang dilakukan oleh manusia. Jadi ketika berbondong-bondong orang mau mengikut Tuhan Yesus di Lukas 14:25-35, Tuhan Yesus berkata, “hitung dulu anggarannya,” artinya ini tidak mudah. Tetapi ironisnya hari ini, kekristenan ditawarkan sebagai jalan mudah masuk surga; cara mudah memperoleh keselamatan. Itu benar-benar dari kuasa kegelapan, menyesatkan. Padahal, menjadi Kristen berarti memasuki perjuangan yang berat. Dengan kata lain, kalau seseorang tidak berani “bunuh diri,” ia tidak bisa menjadi orang Kristen yang sejati. Dalam hal ini, yang dibunuh bukan dagingnya, melainkan nafsunya. Yang dibunuh ambisi, cita-cita, keinginan-keinginan daging seseorang. Ada orang yang bisa ‘terbang’ tinggi, yaitu orang yang hidupnya benar-benar bersih dan hatinya tidak terikat oleh kesenangan apa pun. Mulutnya bersih, tidak ada percintaan dunia. Sudah sepantasnya kita bersyukur memiliki Allah yang benar. Satu-satunya Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi. Tapi kita tidak akan sampai ke sana kalau tidak benar-benar bersih. Jadi sejatinya, kekristenan yang kita pahami selama ini, bukan Kristen yang orisinil. 

Di Matius 19:21-23, orang muda yang ingin mengikut Tuhan Yesus tidak menyanggupi syarat yang Tuhan ajukan. Padahal dengan menyanggupi syarat seperti tersebut, meski terkesan seperti “bunuh diri,” itu akan menghidupkannya. Tidak ada kematian yang indah seperti ini, sebab ini menghidupkan. Dan tidak ada kehidupan tanpa kematian. Lalu di Lukas 9:57-62, ada orang berkata: “Tuhan, aku akan ikut Engkau ke manapun Engkau pergi.” Tuhan berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Ini gaya hidup normal yang Tuhan kehendaki kita jalani. Tuhan sering membuat kita sadar melalui pukulan, dan kadang berulang. Maka, jangan jadi orang Kristen yang tidak Tuhan perhitungkan. Kalau hari ini para teolog menjelaskan bahwa “keselamatan bukan karena perbuatan baik,” hal itu bisa mengisyaratkan bahwa keselamatan bisa kita peroleh tanpa usaha atau mudah. Itu benar-benar menyesatkan. Sehingga, banyak orang Kristen tidak mengalami perubahan yang signifikan.

Mereka merasa nyaman dan aman, berpikir bahwa mereka sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Bagi orang Kristen yang agak sungguh-sungguh atau pendeta-pendeta yang lebih sungguh-sungguh, alasannya “proses.” Benar, proses. Namun, proses itu harus sesuai dengan tahap-tahapnya Tuhan, bukan tahap-tahap kita. Kita berkata, “proses,” tapi sejatinya kita tidak pernah serius berbicara dengan Roh Kudus untuk mengerti proses yang kita jalani sudah sampai di mana. Dulu kita tidak tahu yang seperti apa Kristen orisinil itu. Ternyata, perjuangan yang lebih berat dari semua perjuangan. Kita sering diselewengkan, digagal-fokuskan oleh banyak masalah. Namun ternyata kesulitan hidup itu pun bisa menyempurnakan kita. Di sini perlu kesediaan kita untuk menyambut penyempurnaan Tuhan tersebut.

Kalau seseorang tidak berani bunuh diri—yaitu mematikan kedagingannya—ia tidak bisa jadi orang Kristen yang sejati.