Bukan Hanya Dipertahankan

Dalam 2 Petrus 3:15 tercatat, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya.” Dalam teks aslinya, kalimat “sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat” adalah soterian geheisthe (σωτηρίαν ἡγεῖσθε). Hal itu jelas sekali menunjukkan bahwa keselamatan seseorang dapat diperoleh kalau seseorang mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Yesus mati di kayu salib, itu anugerah. Tetapi untuk memperoleh apa yang Allah sediakan melalui kurban-Nya tersebut, kita harus berusaha. Jadi bukan hanya sebuah format teologis bahwa yang percaya Yesus diperdamaikan dengan Allah. Kalau hidup seseorang tidak mengalami pertumbuhan dalam kesucian sesuai standar kesucian Allah, berarti ia mengarahkan diri kepada kebinasaan atau api kekal. Dalam hal ini jelas apakah seseorang nanti akan masuk surga atau masuk neraka—dimuliakan bersama Yesus atau tidak—itu sudah bisa dikenali dari kualitas hidupnya sekarang, sejak di bumi ini. 

Sejatinya, doktrin yang benar tidak hanya menjadi konten di dalam pikiran atau buku-buku, tetapi akan mendesak orang untuk melakukan dan mengalami. Sebaliknya, ajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang murni membuat orang damai dan puas tanpa mengalami. Sampai pada keyakinan bahwa dirinya yakin selamat dan betul-betul merasa dirinya anak Allah, padahal itu palsu; pseudo. Kalau keselamatan dimiliki seseorang hanya karena mengaku dengan mulut atau persetujuan pikiran, maka Iblis tidak akan bekerja keras mencobai orang percaya. Petrus juga tidak akan menulis suratnya di 1 Petrus 5:8-9, “sadarlah dan berjaga-jagalah, lawanmu si Iblis berjalan keliling, sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Ini nasihat bukan untuk orang di luar Kristen. Ini orang percaya. Harus dilawan, dengan iman yang teguh. “Sebab kamu tahu bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.”

Itulah sebabnya Paulus dalam Filipi 2:12 mengatakan, “…karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…” Keselamatan yang disediakan Allah itu harus diperjuangkan untuk dapat diraih dan dimiliki secara permanen. Dalam kehidupan orang percaya, keselamatan itu bukan hanya dipertahankan, melainkan juga harus dikembangkan atau ditumbuhkan. Dipertahankan artinya kesempatan untuk memperoleh keselamatan tidak disia-siakan. Dikembangkan atau ditumbuhkan artinya kehidupan sebagai anak Allah harus terus mengalami perubahan, sampai bisa berkodrat ilahi. Dengan cara apa? Jangan punya fokus yang lain, yang dikalimatkan oleh Tuhan Yesus di Lukas 17 sebagai “menoleh ke belakang.” Mempertahankan keselamatan adalah tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan.

Keselamatan adalah sesuatu yang progresif, artinya membuat seseorang hidup makin tidak bercacat, tidak bercela. Kuasa gelap berusaha untuk menghentikan progresivitas itu agar keselamatan tidak diperoleh seseorang. Kesempatan untuk meraih apa yang Allah sediakan banyak disia-siakan ketika seseorang mulai menghargai atau memberhalakan sesuatu atau seseorang—termasuk memberhalakan masalah—lebih dari penghargaannya kepada Tuhan. Kita harus mulai memikirkan hal ini dengan serius. Nanti di pengadilan Tuhan, semua akan dibuka, sampai hal paling detil dan tersembunyi, akan dibuka. Hal ini mengisyaratkan bahwa keselamatan yang dimiliki seseorang itu ditandai oleh kehidupannya yang mengalami progresivitas menunju kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.

Maka tadi dikatakan, “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan...” Mari, jangan sia-siakan kesempatan; tidak boleh hilang. Memanfaatkan kesempatan inilah yang namanya mempertahankan keselamatan. “…bagimu untuk beroleh selamat” sama artinya dengan “supaya keselamatan menjadi milik yang pasti.” Dari hal ini, kita mengerti mengapa Yesus berkata, “bukan orang yang berseru kepada-Ku ‘Tuhan, Tuhan’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.” Padahal orang-orang ini bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan banyak mukjizat. Tetapi yang Allah kehendaki lebih dari melakukan mukjizat itu; yaitu melakukan kehendak Allah. Karunia bukanlah ciri orang dewasa; buah Rohlah yang merupakan ciri orang dewasa.  Oleh sebab itu, mendengar kata “hidup kudus dan tak bercacat dan tak bercela,” kita jangan merasa asing. Itulah kehidupan yang harus kita capai dan harus kita jalani, sampai nanti kita berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus.

Dalam kehidupan orang percaya, keselamatan itu bukan hanya dipertahankan, melainkan juga harus dikembangkan atau ditumbuhkan.