Bersyukur yang Benar

Kita harus bersyukur atas pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Penyertaan Tuhan sejak kita dilahirkan, masa kanak-kanak sampai hari ini adalah pemeliharaan Allah yang sempurna. Kalau kita sungguh-sungguh menyadari betapa besar kasih Tuhan atas hidup kita, maka kita tidak berani lagi menuntut apa-apa kepada-Nya. Kita tidak berani lagi mencoba mengatur Tuhan. Tetapi yang kita lakukan adalah menyerahkan hidup kita, dan memberi diri untuk diatur oleh Tuhan, sesuka hati Tuhan, atau yang sama dengan kita menyediakan diri untuk hidup dalam kedaulatan Allah. Kebaikan Tuhan atas kita tidak akan pernah bisa kita hitung, baik yang kelihatan, yang kita tahu, maupun yang tidak kita sadari. Terlalu banyak berkat dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Sejak kita dirajut oleh Tuhan di dalam kandungan ibu, kita dilahirkan dengan sempurna. Masa kanak-kanak kita di dalam pimpinan Tuhan, lalu memasuki remaja dan seterusnya. Kita berutang kebaikan kepada-Nya.

Belum lagi kalau kita menyadari betapa besar harga keselamatan yang Allah Bapa berikan, dengan memberikan Putera Tunggal-Nya kepada kita. Sungguh kita tidak akan pernah bisa menghitung jumlah berkat Tuhan, dan kita tidak pernah akan bisa dapat membalas atau mengembalikan kebaikan Tuhan. Tetapi kita bisa bersyukur dengan tulus. Dan ucapan syukur kita bukan hanya dengan kata-kata, tetapi kita bisa mengucap syukur dengan tindakan, dengan perbuatan, yaitu menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, hidup di dalam pengaturan Tuhan.

Sikap kita membalas kebaikan Tuhan adalah dengan menyerahkan hidup agar kita hidup di dalam kedaulatan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Ini juga merupakan langkah untuk menyelamatkan diri kita, supaya kasih yang Allah sediakan kepada kita akan lebih lengkap, lebih sempurna, lebih utuh kita terima. Sebab berkat yang Allah sediakan bagi kita juga tidak terbatas, tidak hanya sampai pada saat ini. Tetapi berlanjut terus dalam bentuk proses pendewasaan agar kita serupa dengan Yesus. Tetapi sayang, kalau jujur banyak berkat-berkat Tuhan yang telah kita sia-siakan. Seandainya dari dulu kita hidup di dalam kebenaran Tuhan, dalam kesucian, dalam kekudusan Tuhan, dalam penurutan terhadap kehendak Allah, pastilah lebih lengkap, lebih banyak, lebih utuh berkat yang Allah sediakan bagi kita dapat kita alami dan kita miliki. Tetapi kita telah banyak mengambil salah langkah, kita sering mengambil keputusan keliru, bahkan kita juga sempat menjadi domba yang terhilang.

Pada saat-saat kita tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, berkat-berkat kekal dari Tuhan banyak terbuang sia-sia, yang mestinya bisa kita miliki. Tetapi bersyukur Tuhan membawa kita kembali kepada-Nya. Masih banyak berkat yang Allah sediakan, yaitu kekekalan dimana kita diubah terus untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Oleh sebab itu hendaknya kita tidak mengambil langkah yang keliru lagi, kita harus menyerahkan hidup kita sepenuh kepada Tuhan, untuk hidup di dalam kedaulatan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Dan itu pun tidak mudah kita raih. Kita harus berjuang untuk belajar berjalan bersama Tuhan. Kita harus terus menerus belajar mengenal kebenaran, dan hidup di dalam kebenaran tersebut. Melalui pemberitaan Suara Kebenaran yang kita dengar, melalui doa-doa yang kita lakukan, kita mencari wajah Tuhan. Kita mau mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Kita bisa tahu rencana Allah dalam hidup kita yang harus kita penuhi atau tugas khusus atau tugas istimewa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing.

Kita akan sangat menyesal kalau suatu saat di hadapan Allah, ketika pengertian kita menjadi lengkap dan utuh, ternyata kita menyia-nyiakan berkat-berkat kekekalan yang besar yang Allah sediakan bagi kita. Tapi kiranya hal itu tidak akan terjadi di dalam hidup kita. Dengan mengerti kebenaran ini dan mengenakan kebenaran ini, kita masih dapat meraih berkat-berkat yang Allah sediakan bagi kita di waktu mendatang.  Allah bukan hanya baik, tetapi sangat baik. Allah bukan Allah yang oportunis. Allah yang murah yang mau memberi, Allah yang mengasihi kita dan kepada kita yang dikasihi-Nya, Allah menghendaki agar segala berkat yang Allah sediakan dapat kita raih sepenuhnya sampai nanti kita ada di langit dan bumi yang baru. Allah menghendaki agar segala apa yang baik yang Dia sediakan bagi orang-orang yang dikasihi-Nya dapat dimiliki oleh orang-orang yang dikasihi-Nya dan dinikmati, dan selanjutnya kita bisa hidup di dalam persekutuan yang harmoni dengan Allah yang mengasihi kita sebagai anak-anak yang hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, dan Bapa bisa menikmati kita yang hidup di dalam penurutan terhadap kehendak-Nya (1 Ptr. 1:13-14).