Bersukacita di Dalam Tuhan

Saudaraku,

Dalam Alkitab berulang-ulang dikatakan, “bersukacitalah di dalam Tuhan, bersukacitalah di dalam Tuhan.” Pemazmur juga mengatakan, “Tuhan adalah kegembiraanku,” artinya bahwa Tuhan menjadi sumber sukacita kita. Sikap hati seperti ini harus kita kembangkan di dalam diri kita walaupun sungguh sangat tidak mudah dan Allah tidak kelihatan, sementara persoalan-persoalan yang kita hadapi di depan mata dan sangat berat. Tetapi kita harus menuruti Firman ini. Sebab dengan kita bersukacita di dalam Tuhan berarti kita mengakui dan menganggap bahwa Allah lebih besar dari segala hal, Allah lebih besar dari segala sesuatu. Kalau kita tenggelam dengan persoalan, pergumulan, menjadi dukacita, jadi susah, jadi kusut, berarti kita menganggap Allah kita itu kecil, dan kita juga menganggap Allah itu tidak mengasihi kita. 

Memang mudah mengatakan ini, namun sulit untuk mengenakannya. Tetapi mari kita belajar; hari ini, Minggu, 26 Desember 2021, kita ingat Tuhan memberikan Firman-Nya kepada kita, “bersukacitalah di dalam Tuhan.” Dan ini menjadi petualangan yang hebat, yang luar biasa di dalam hidup kita. Ketika kita bersukacita di dalam Tuhan berarti kita sungguh-sungguh memuliakan Allah. Memuliakan Allah bukan hanya dengan syair lagu dan nyanyian, melainkan dengan sikap hidup. Dan Bapa disukakan dengan sikap hati seperti ini. Makin besar masalah kita, makin terancam keadaan kita, tetapi kita makin bersukacita; Allah dimuliakan, Allah ditinggikan. Luar biasa!!! Itu berarti kita juga mengakui Allah itu baik. Tuhan tentu tidak membuat kita celaka, kecuali kita memang hidup di dalam dosa. Kalau kita hidup benar—paling tidak kita belajar terus untuk hidup benar—Tuhan pasti melindungi kita. Dengan sikap seperti itu maka bisa terjalin hubungan yang harmoni dengan Allah karena kita memercayai Pribadi-Nya.

Sejarah Kerajaan Allah—yaitu perjalanan hidup bangsa Israel—memberikan kepada kita pelajaran yang berharga, bagaimana Allah sebagai Bapa memelihara anak-anak-Nya. Memang tidak selalu dibawa kepada keadaan yang aman dan nyaman.  Sering Tuhan mengizinkan bangsa Israel, bahkan membawa bangsa Israel, kepada keadaan-keadaan yang sulit. Mereka dibawa ke seberang Laut Teberau, sementara Firaun bersama algojo-algojo dan tentara-tentaranya memburu mereka dan mereka ada di antara dua bukit. Bangsa Israel tidak bisa ke kanan tidak bisa ke kiri, tetapi justru di situlah Tuhan mau menunjukkan kemuliaan dan kebesaran-Nya. Tuhan juga membawa mereka ke tempat di mana tidak ada air. Kalau ada pun, airnya pahit. Namun jangan kita lupa, Tuhan tidak mungkin memberi kita hal yang pahit supaya kita mati, tetapi memberi hal yang pahit supaya kita sehat. 

Ia membawa kita kepada keadaan-keadaan yang sulit, yang terjepit, dalam ancaman dan bahaya, dalam kesulitan dan kekurangan; usaha merosot, bisnis sepi; atau masalah lainnya, tetapi di situ kita diajar untuk percaya kepada Pribadi Allah.  Bukan percaya kepada sesuatu yang kita harapkan untuk terwujud, yakin yang kita ingini dapat terwujud, yakin apa yang kita gapai, kita tangkap, bukan itu. Objek percaya kita bukan sesuatu yang kita ingini, tetapi Pribadi Allah. Makin berat perkara kita, makin sukar, makin pelik, makin besar Allah yang kita alami, makin dahsyat pengalaman yang kita bisa terima. 

Bersukacita dalam Tuhan berarti kita yakin Allah itu besar, Allah itu baik dan membangun hubungan yang harmoni kita dengan Dia. Sebab kalau hubungan tidak disertai dengan rasa saling percaya, tidak mungkin. Dalam hal ini kita memercayai Allah bahwa Dia bisa dipercayai. Allah juga memandang kita sebagai anak-anak-Nya yang bisa dipercayai. Kapan kita bisa dipercayai? Pertama, waktu kita hidup benar; kedua, ketika kita rela mempersembahkan apa pun untuk kepentingan Kerajaan Surga. Dan ketiga, ketika kita tidak merugikan, tidak menyakiti, tidak melukai orang lain.

Makin berat perkara kita, makin sukar, makin pelik, makin besar Allah yang kita alami, makin dahsyat pengalaman yang kita bisa terima. Maka kita mau bersukacita di dalam Tuhan, apa pun yang terjadi. Yang penting kita jangan berbuat dosa, jangan melukai Allah. Dengan bersukacita di dalam Tuhan kita pasti jadi panjang umur, enzim-enzim kita tidak mati. Kalau kita takut, kita khawatir, kita cemas, maka enzim-enzim positif kita bisa mati. Tetapi kalau kita sukacita seperti Firman Tuhan katakan, ‘hati yang gembira adalah obat’; kita punya obat setiap hari, yaitu ‘sukacita’. Kita minta ampun kepada Tuhan atas sikap kita yang tidak patut kepada-Nya. Kita menjadi susah hati, kusut, stress, depresi dan lain-lain karena masalah-masalah berat. 

Sekarang kita mau lepaskan semuanya. Kita percaya Allah yang besar, Allah yang menaungi kita, Allah yang menjagai kita dengan sempurna. Kita serahkan semua ke dalam tangan Tuhan. Maka, kalau pun kita harus hancur, kita hancur di tangan Tuhan. Hal itu membuat hidup kita aman, membuat kita nyaman, hidup kita menjadi kuat. Hari ini, Minggu 26 Desember 2021, kita kuatkan percaya kita kepada Allah yang hidup yang menyertai kita dan percaya bahwa kita akan dilindungi-Nya memasuki tahun 2022 yang segera kita jelang.

Teriring salam dan doa,

Erastus Sabdono

Dengan kita bersukacita di dalam Tuhan berarti kita mengakui dan menganggap bahwa Allah lebih besar dari segala hal, Allah lebih besar dari segala sesuatu