Bersikap Sepantasnya

Sebenarnya sulit untuk menemukan satu kata yang patut digunakan untuk menunjukkan sikap kita yang seharusnya terhadap Tuhan. Biasanya kata yang digunakan adalah “ekstrem.” Kita harus ekstrem, harus fanatik, harus memiliki intimacy (keintiman), nekat, sepenuh hati, segenap hati, dan lain sebagainya. Sejatinya, kata-kata itu sebenarnya tidak cukup mewakili bagaimana sikap kita seharusnya terhadap Allah. Suatu hari nanti, ketika kita menghadap Allah, kita baru bisa mengerti sepenuhnya bahwa Dia yang Empunya segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan. Bahwa hanya Dia yang layak dimuliakan, ditinggikan, dan diagungkan. Bahwa Dia yang menciptakan segala sesuatu, berhak memiliki segala sesuatu, dan semua yang diciptakan hanya bagi Dia. Dia adalah Allah Israel, Elohim Yahweh, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, Allah dan Bapa kita semua. 

Berbahagialah orang-orang yang pada waktu menghadap Allah Bapa, telah selesai dengan dirinya sendiri. Artinya, orang yang telah mempersembahkan hidupnya tanpa batas kepada Allah. Kata “tanpa batas” ini juga mewakili kata ekstrem, fanatik, radikal, nekat, dan lain sebagainya. Pada saat itulah seseorang baru akan menyadari betapa layak dan pantasnya segala sesuatu bagi Dia. Karena memang segalanya dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia. Namun sejujurnya, kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah. Kita sudah terlanjur memiliki gaya dan cara hidup yang egosentris dan antroposentris dimana manusia sebagai pusat, bukan Teosentris. Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat. Kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah diri. Oleh sebab itu, mari kita belajar untuk bersikap sepantasnya kepada Allah. 

Dalam Alkitab, kita menemukan orang-orang yang benar-benar ekstrem, fanatik, nekat mengasihi Dia. Seperti Abraham, hidupnya dirampas sepenuhnya oleh Allah. Bahkan tersirat bagaimana Abraham tidak berhak memiliki apa yang tersayang dalam hidupnya, kecuali Allah sendiri. Dia harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga. Dia harus keluar dari negerinya, dan dia tidak boleh kembali. Dia harus melewati tahun-tahun yang panjang dalam kesepian, tanpa anak yang akan mewarisi kekayaannya. Sampai, sempat dia menjadi tawar hati dan mau menyerahkan warisannya kepada salah satu hambanya, Eliezer. Bahkan ketika dia sudah memiliki anak, Allah pun mau renggutnya. Tetapi Abraham bersedia. Demikian pula dengan Musa. Hidupnya juga dirampas untuk memenuhi panggilan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Dan yang paling kita kagumi adalah Tuhan kita, Yesus Kristus, yang prinsip-Nya “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Dan kemudian Rasul Paulus, serta murid-murid yang lain, juga menunjukkan kehidupan seperti itu.

Kata “percaya” yang ditulis Alkitab untuk orang pada zaman itu terkait dengan perbuatan. Jadi kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, berarti nyawa, keluarga, harta, seluruh hidupnya dipertaruhkan. Itu tidak sama dengan percaya yang dimiliki orang di abad-abad berikut ketika sudah tidak ada penganiayaan. Sangat jauh berbeda dengan percaya orang pada zaman ini. Para teolog merumuskan kata “percaya” di atas kertas, dan dipahami secara nalar. Hal ini menjerumuskan banyak orang Kristen dalam fantasi berteologi, fantasi berdoktrin, dan berdebat dalam ajaran. Padahal, percaya adalah tindakan. Seperti Abraham, tindakan Abrahamlah yang membuat dia disebut sebagai bapa orang percaya. Jadi kalau dikatakan “dibenarkan oleh iman,” berarti dibenarkan oleh tindakan berdasarkan apa yang Allah kehendaki, bukan sekadar perbuatan baik.

Untuk bisa memercayai Yesus sebagai Anak Allah, itu juga bukan sekadar meyakini dalam pikiran, jika kata “percaya” tersebut dikenakan pada zaman itu. Percaya kepada Tuhan Yesus menjadi konyol di mata manusia di sekitarnya. Anak tukang kayu yang dicap pemberontak oleh kekaisaran Roma, yang dicap menghujat Allah oleh jurubicara resmi dari para pemimpin dan pemuka agama—malah dipercayai sebagai Anak Allah. Tetapi sejatinya, orang yang percaya adalah orang yang beruntung. Ingat, percaya bukan hanya sebuah keyakinan dalam pikiran. Jika kita membaca konteks zaman, maka Alkitab menunjukkan bahwa percaya itu termasuk seluruh tindakan dan perbuatan. Ironis, kalau hari ini orang cukup merumuskan, mendefinisikan ‘percaya’ sebagai sekadar aktivitas nalar. Kalau pun tidak diucapkan, tapi dikesankan begitu. Semua dijawab dengan rumusan doktrin dan ajaran, yang itu ternyata malah membunuh kekristenan. Dan buktinya, hari ini kita lihat kekristenan menjadi begitu suram dan suam.

Mari kita kembali kepada kebenaran Alkitab yang murni. Kehidupan Yesus yang menjadi teladan kita. Paulus mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Flp. 1:21); “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” (Flp. 2:17). Kalau kita bertemu dengan Tuhan suatu hari nanti, kita baru tahu bahwa Dia segalanya dalam hidup ini. Kita harus berubah. Betapa indahnya hidup seperti ini. Walaupun di mata manusia kita bisa konyol, tetapi inilah standar yang seharusnya. Jangan menunggu nanti di hadapan Allah, baru kita sadar bagaimana sepantasnya kita bersikap terhadap Tuhan.

Jangan menunggu nanti di hadapan Allah, baru kita sadar bagaimana sepantasnya kita bersikap terhadap Tuhan.