Berkenan

Dari banyak kebenaran hal yang kita pelajari, ada hal yang sangat memikat hati, yaitu pertama, bahwa menjadi anak Allah itu berarti hidup berkenan kepada Bapa. Jadi, tidak ada orang yang menjadi anak Allah lalu tidak berkenan. Semua anak Allah harus berkenan kepada Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa,” artinya apa pun yang Bapa kehendaki, apa pun yang Bapa ingini, harus kita lakukan. Atau, segala sesuatu yang kita ingini harus sesuai dengan keinginan Bapa. Lebih tepat lagi: hidup dan jiwa kita harus menjadi bejana di mana keinginan dan kehendak Bapa dicurahkan, sehingga hidup kita hanya melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yang kedua, semua yang menjadi anak Allah akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah bukan beroleh kesempatan masuk surga, tapi juga dimuliakan. Berarti kita akan duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam pemerintahan Kerajaan Surga, Kerajaan Allah Bapa, yang dipercayakan, baik kepada Tuhan Yesus maupun kepada orang-orang percaya.

Itulah sebabnya di dalam Roma 8:17 dikatakan bahwa kita akan menerima janji-janji yang diberikan, baik kepada Tuhan Yesus, juga kepada kita. Betapa luar biasa posisi anak-anak Allah yang bisa dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Hal ini harus selalu diingat. Dulu kita pikir kita bisa menjadi orang Kristen biasa-biasa saja yang mengaku sebagai anak Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh memperkarakan, tidak sungguh-sungguh mempersoalkan kita itu berkenan kepada Bapa atau tidak. Setiap hari kita harus memperkarakannya: apakah kita sudah berkenan di hadapan Bapa? Bawa diri kita di hadapan Tuhan setiap hari, perkarakan di hadapan Tuhan setiap hari, lalu temukan jawabnya. Sudahkah kita berkenan di hadapan Tuhan? Jangan merasa damai sejahtera, jangan merasa aman sebelum kita tahu pasti kita ini berkenan di hadapan Bapa atau belum. Kalau belum, kita tanyakan apa yang membuat kita tidak berkenan di hadapan Bapa. Kita harus ngotot untuk bisa mengetahui keadaan kita yang sebenarnya di mata Allah Bapa.

Jikalau kita sungguh-sungguh memperkarakan ini, Bapa pasti menjawab. Ingat firman Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Ini bertalian. Orang tidak mungkin dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus kalau tidak berkenan di hadapan Bapa. Jadi sebenarnya semua anak-anak Allah ini harus seperti Tuhan Yesus. Matius 3:17, Bapa menyampaikan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak yang berkenan, dan semua orang percaya harus seperti Yesus. Sering orang memahami perihal kesempurnaan dengan Yesus dengan pikiran yang pendek. Seperti Yesus digambarkan sebagai pribadi yang tidak suka marah, bahkan tidak boleh marah. Padahal marah itu perlu jika memang digunakan dengan tepat dan benar; bahkan harus bisa. Tapi bagaimana seseorang mengekspresikan kemarahan, itu masalahnya. Ada marah yang merusak atau destruktif, dan ada marah yang kudus atau konstruktif.

Apakah seperti Yesus berarti harus lemah lembut? Apakah orang yang bicaranya lembut berarti lemah lembut? Kita tidak hidup bersama dengan Tuhan Yesus. Sedangkan para murid sendiri tiga setengah tahun bersama dengan Tuhan Yesus. belum tentu bisa menjawab kalau ditanya perihal apa itu seperti Yesus? Setiap individu harus memperkarakan bagaimana menempatkan diri seperti Yesus di mata Bapa, di mata Tuhan kita, Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus pasti menuntun kita bagaimana kita memiliki keberadaan karakter, moral manusia batiniah atau innerman kita seperti Dia, seperti Tuhan Yesus. Ini tidak bisa ditawar. Coba kita renungkan baik-baik hal ini. Tidak boleh tidak, kita harus menjadi seperti Yesus. Maka, betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan, momentum-momentum atau peristiwa-peristiwa hidup yang Allah Bapa izinkan kita alami, yang melaluinya kita dibentuk untuk menjadi seperti Yesus. Momentum mendengarkan khotbah, momentum berdoa, momentum menghadapi suatu masalah, dan lain sebagainya. Semua itu hanya diarahkan supaya kita menjadi anak yang berkenan. Harus berkenan, harus serupa dengan Yesus, harus sempurna seperti Bapa. Ini adalah hal yang mutlak dan tidak dapat ditawar. Maka, miliki gairah ini dan berjuanglah untuk mendapatkannya. 

Menjadi anak Allah berarti hidup berkenan kepada Bapa