Berjalan dengan Tuhan

Hanya orang yang benar-benar “berjalan dengan Tuhan” yang siap dan sukacita menghadapi kematian. Bagi mereka, Allah bukan pribadi yang asing. Ini yang benar-benar harus kita butuhkan, bagaimana bisa berjalan dengan Allah setiap hari. Dengan berjalan bersama Allah, seseorang dapat mengalami Allah yang hidup. Banyak orang sibuk dengan fantasi sendiri dalam ber-Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan. Untuk berjalan dengan Tuhan, orang percaya harus hidup dalam kekudusan, kesucian, dan tidak boleh ada percintaan dunia di dalam hidup. Dengan berjalan dengan Tuhan, seseorang bisa mengalami hadirat Allah dan merasa aman. Setiap hari, orang percaya berjalan dengan Tuhan. Hal berjalan dengan Tuhan harus dijadikan kerinduan dan kebutuhan yang mendesak, darurat, dan sangat penting, bahkan tidak ada yang lebih penting dari hal ini. Untuk berjalan dengan Allah, kita harus menjadi orang-orang yang dipisahkan dari dunia walaupun kita hidup di tengah-tengah dunia dengan segala kesibukannya. 

Suatu hari nanti, banyak orang yang akan sangat menyesal dalam ketakutan dan kegentaran yang hebat karena mereka tidak pernah berjalan bersama Tuhan selama hidup di dunia. Oleh sebab itu, kita harus harus menguji diri sendiri apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan. Kalau kita memperhatikan Alkitab dengan teliti, pada umumnya orang-orang yang benar-benar dipakai Tuhan adalah orang-orang yang berjalan dengan Tuhan. Kalau seseorang mau menjadi hamba Tuhan yang dipakai Tuhan, harus berjalan dengan Tuhan. 

Kita harus mempersoalkan masalah mengapa setelah meninggal dunia, seseorang tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat? Tidak ada lagi kesempatan untuk minta ampun. Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau kedahsyatan Allah di surga, tidak bisa tidak, orang akan takut, gentar, dan ngeri. Tidak bisa tidak, orang akan minta ampun dan berusaha mau berkenan. Tetapi permintaan ampun di saat itu adalah permintaan ampun yang palsu, yang tidak berkualitas. Sebab, dilakukan dengan terpaksa karena takut, jadi tidak tulus dan natural. Pada saat itu, barulah muncul penyesalan mengapa tidak sejak hidup di bumi berjalan dengan Tuhan. Mestinya pada saat masih hidup di bumi, ketika Tuhan seakan-akan tidak ada, seperti sekarang, kita memercayai bahwa Dia adalah Pribadi yang hidup. 

Alkitab berkata, bahwa setelah mati, ada penghakiman (2Kor. 5:9-10). Dan kalimat itu sudah cukup memberitahukan kepada kita bahwa setelah mati, tidak ada perbaikan, tidak ada rekonsiliasi, tidak ada restorasi, dan tidak ada kesempatan berjalan dengan Allah kalau tidak hidup dalam kesucian sejak di bumi. Tuhan menghendaki percaya yang benar, takut akan Allah yang benar sejak di bumi. Apalagi kita ada pada zaman dimana orang tidak percaya Tuhan, namun kita memilih untuk tetap memercayai Dia dan berjalan dengan-Nya. Percaya kita yang benar itu pasti ditandai dengan kesetiaan kita untuk taat dan takut akan Dia. Ini adalah pilihan, dan kita memilih untuk percaya dan setia kepada-Nya, sejak sekarang di bumi. 

Betapa mudahnya orang berbicara mengenai Allah, dan betapa mudahnya orang belajar teologi. Tetapi, betapa tidak mudahnya orang benar-benar bersentuhan dengan Allah dan berjalan dengan Dia. Banyak orang berpikir berpikir, betapa mudahnya mengenal Allah. Mereka beranggapan dengan belajar tentang Allah atau teologi, sudah bisa merasa berjumpa dengan Allah. Itu benar-benar suatu kebodohan dan benar-benar suatu penyesatan. Hal ini sudah terjadi di lingkungan sekolah teologi yang belajar teologi. Mereka menjadi pembicara-pembicara di gereja, menjadi pimpinan-pimpinan gereja, menjadi pimpinan-pimpinan sinode, menjadi pimpinan-pimpinan aras gereja atau kumpulan sinode-sinode. Betapa mengerikan kekristenan itu pada dewasa ini. Melalui pengalaman hidup, kita menyadari betapa tidak mudahnya mengenal Allah dengan benar. Mengenal Allah, bukan hanya mengetahui ilmu tentang Allah atau teologi. 

Allah itu Mahahadir. Di mana kita bernafas, di situ Allah. Tetapi ironisnya, tidak banyak orang yang sungguh-sungguh bersentuhan dengan Allah dan berjalan dengan Allah. Sejatinya, Allah itu hidup, dan orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha menemukan Dia, pasti menemukan-Nya. Orang yang berusaha untuk menemukan Allah akan mengalami Allah seperti sebuah arus yang menyengat hidupnya. Hal itu akan menjadikan seseorang merasa haus dan lapar akan Allah, dan selalu merindukan untuk berjalan dengan Allah. Kita harus mau benar-benar serius mencari Tuhan dan mengalami-Nya. Tuhan itu segalanya dalam hidup ini. Kita harus benar-benar ngotot mencari Tuhan, lebih dari mencari uang, harta, dan karier. Dengan benar-benar ngotot, maka kita bisa mengalami Tuhan dan berjalan dengan Dia. Inilah keberuntungan di atas segala keberuntungan.