Berjalan dengan Iman

Ada satu kesalahan yang bisa menjadi semacam penyakit bagi iman kita. Hal itu adalah ketidakberanian kita menerima dan memercayai apa yang belum kita saksikan, sebagai realita yang akan kita alami atau benar-benar terjadi. Kedatangan Tuhan Yesus dengan orang saleh-Nya dan akan memerintah di bumi ini merupakan suatu realitas yang benar-benar akan terjadi. Kita tidak boleh meragukannya. Hal-hal yang tidak pernah kita dengar dan lihat akan dinyatakan Tuhan kepada kita (1Kor. 2:9). Memang ayat ini konteksnya adalah hikmat Tuhan. Tetapi bukan berarti jauh maknanya dari apa yang sedang kita pelajari. Dari hikmat Tuhan inilah kita dapat mengerti apa yang disediakan Tuhan bagi kita. Menjadi sangat menarik sebab ternyata ayat yang diambil dari kitab Yesaya ini berbicara mengenai kedatangan Tuhan (Yes. 64:1-4). 

Memang hidup dengan menatap janji kedatangan Tuhan dan pemerintahan Allah yang akbar nanti, menjadikan kita seperti pemimpi-pemimpi. Anak-anak dunia memandang hal tersebut sebagai isapan jempol. Jadi kita mengerti mengapa orang mengolok-olok Nuh tatkala memberitakan berita keselamatan. Juga Lot ketika mengajak orang-orang keluar kota Sodom. Tetapi mimpi kita bukanlah sesuatu yang kosong. Mimpi kita adalah nubuatan Alkitab yang akan digenapi. Seperti Abraham memiliki mimpi dan hidup di atas mimpi tersebut, kita pun belajar demikian (Ibr. 11:8,10,16). Itulah yang namanya berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan (2Kor. 5:7). Nuh berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan dan bertahun-tahun berjalan dengan iman. Dengan iman, bukan dengan penglihatan, Nuh menggerakkan diri dan keluarganya untuk berjuang membuat bahtera. 

Kedatangan Tuhan dan pemerintahan teokrasi yang dijanjikan Tuhan menjadi peragaan hebat yang sangat menakjubkan yang akan kita alami nanti. Kita tidak akan dapat bisa menjelaskan dengan kata-kata kita hari ini, sekaya apa pun perbendaharaan kata kita. Hari ini kita memang belum melihat, telinga kita pun barangkali jarang mendengar, menganalisa mimpi kita pun sulit, tetapi kita harus  berani percaya apa yang Tuhan katakan atau janjikan. Orang-orang zaman Nuh tidak akan menduga bahwa mereka akan mengalami bencana yang begitu dahsyat. Sementara Nuh dan keluarganya tidak menduga betapa nyamannya bahtera hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun. Bakal calon menantu Lot tidak akan menduga bumi mereka dijungkirbalikkan Tuhan dan api belerang membakar kota mereka. Sebaliknya, ketika Lot keluar dari Sodom dan Gomora, ia baru mengerti betapa beruntungnya keluar dari kota itu.

Gambaran yang jelas dapat kita temukan di Lukas 16:19-25. Peristiwa ini cermin dari kehidupan manusia. Banyak orang tidak sadar betapa dahsyatnya kengerian api kekal, tetapi juga tidak menyadari bertapa beruntungnya ada di “pangkuan Abraham.”  Memercayai Tuhan juga berarti masuk ke dalam apa yang dijanjikan Tuhan di waktu mendatang. Masuk ke dalam apa yang Tuhan janjikan, artinya mulai sekarang hidup kita diarahkan kepada kehidupan yang akan datang. Inilah yang namanya berjalan dengan iman. Air bah belum melanda bumi tetapi keluarga Nuh sudah memasuki kehidupan yang Tuhan janjikan. Ini juga berarti hidup dalam janji Bapa. Yang paling mengagumkan adalah kehidupan Abraham. Seluruh kehidupannya adalah kehidupan untuk masa depan. Walau ia tidak mengalami tetapi sampai mati ia percaya (Ibr. 11:13). Sampai mati, Abraham tidak mengalami apa-apa yang dijanjikan Tuhan, tetapi imannya tidak pudar. Abraham adalah sosok manusia yang hidup untuk masa depan. Inilah kehidupan yang Tuhan kehendaki. Inilah yang dimaksud Tuhan dengan “mengumpulkan harta di Surga” (Mat. 6:19-24). Di bumi ngengat dan karat merusak, pencuri dapat mencuri serta membongkarnya. Harta Surgawi kekal. 

Hendaknya kita tidak menjadi keras kepala seperti bangsa Israel yang menolak apa yang Tuhan katakan, bahwa di Kanaan mereka akan menjumpai tanah yang berlimpah susu dan madu. Bangsa Israel sudah terikat dengan Mesir. Sejajar dengan nasihat: Jangan meragukan bahwa di rumah Bapa banyak tempat tingal (Yoh. 14:1-3) Mereka hanya melihat atmosfir Mesir, yang menurut mereka jauh lebih baik dari padang gurun. Tetapi mereka tidak memercayai tanah Kanaan yang permai. Banyak orang Kristen yang tidak memercayai kehidupan yang akan datang, yang tentu jauh lebih indah dari kehidupan hari ini. Jangan takut harus memikul salib dan mengikut Yesus dengan setia, sebab penderitaan kita sekarang tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan kita terima nanti (Rm. 8:18-25).

Hidup berjalan dengan iman artinya masuk ke dalam apa yang Tuhan janjikan dimana mulai sekarang hidup kita diarahkan kepada kehidupan yang akan datang.