Berharga di Mata Allah

Mazmur 116:15 mengatakan, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Ayat ini di luar biasa, di dalamnya mengandung kebenaran dan kekayaan yang tidak terbatas. Kata “berharga,” di dalam bahasa Inggrisnya precious; yang dalam bahasa Ibrani yaqar (יָקָר), yang artinya “bernilai tinggi” atau sinonim dengan kata “mulia.” Orang yang kematiannya berharga di mata Allah adalah orang yang hidupnya pun pasti berharga di mata Allah. Tidak mungkin orang yang hidupnya tidak berharga di mata Allah, lalu kematiannya menjadi berharga. Itulah sebabnya keselamatan dalam Yesus Kristus benar-benar mau mengembalikan manusia ke dalam rancangan Allah yang semula. Supaya manusia kembali memiliki kemuliaan Allah yang hilang (Rm. 3:23), karena semua orang telah berdosa atau jatuh dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah. Sebab memang sejak semula Allah menciptakan manusia agar berkeadaan mulia seperti Allah. Sebenarnya kata atau kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus di Mazmur 5:48: “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” sama maknanya dengan “kamu harus menemukan kembali kemuliaan Allah.” Bukan kemuliaan manusia. Manusia bisa mengembangkan diri dalam berbagai aspek, dalam berbagai bidang hidup, dan dirinya menjadi berharga. Manusia memiliki kesanggupan untuk berjuang dan berusaha mencapai penemuan, pencapaian yang tinggi sehingga membuat dirinya itu bernilai atau berharga. Tetapi manusia tidak mungkin bisa mencapai nilai, harga, kemuliaan seperti yang dimaksud oleh Allah atau yang sesuai dengan rancangan Allah semula tanpa Tuhan Yesus.

Manusia bisa mendidik diri dengan budi pekerti yang baik, mengasah moralnya dengan filosofi atau filsafat-filsafat, menciptakan atau membuat agama agar dirinya menjadi baik dan mulia. Kita pun sudah melihat kemajuan teknologi manusia yang begitu pesat, tak terkendali. Tetapi tidak mungkin bisa mencapai kemuliaan yang Allah maksud, sebab hanya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang bisa mencapainya. Inilah yang Alkitab katakan sebagai “Kabar Baik.” Benar-benar baik, kalau Injil itu mengubah manusia. Bukan hanya bisa mencapai level kebaikan, level budi pekerti yang baik, tetapi bisa menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang. Di satu titik, kita akan bisa memahami betapa masih jauhnya kita dari standar yang Allah kehendaki, yaitu mengenakan dan memiliki kemuliaan Allah. Makin kita mengerti kebenaran dan seiring itu pula kita jujur melihat diri kita sendiri, maka kita akan makin menyadari betapa agung dan indahnya kemuliaan Allah tersebut dan betapa jauhnya keadaan kita dari kemuliaan Allah itu. Kesadaran ini akan membuat kita lebih haus, lebih lapar akan kebenaran, sehingga kita menjadi tidak tertarik terhadap apa pun. Kita akan lebih tertarik kepada Tuhan, tertarik kepada kebenaran-kebenaran-Nya; bagaimana kita bisa lebih memahami kebenaran-kebenaran Allah untuk bisa memahami kemuliaan Allah dan mengenakannya di dalam hidup ini.

Jadi baik yang orisinil, baik yang sesungguhnya adalah seperti Allah sendiri. Tidak ada yang baik selain Allah; hanya kemuliaan Allah. Bersyukur kita sadar akan hal ini, dan bersyukur kita masih memiliki kesempatan untuk berlomba meraih kemuliaan tersebut di sisa umur hidup kita ini. Orang yang kematiannya berharga di mata Tuhan adalah orang yang hidupnya berharga di mata Tuhan. Hidupnya agung di mata Tuhan, bernilai tinggi. Kita semua sudah terlanjur sesat oleh cara berpikir anak dunia. Karena yang kita pahami sebagai mulia, agung, berharga, bernilai adalah pangkat, gelar, kedudukan, penampilan cantik atau ganteng, kehormatan, pujian manusia, kedudukan, pangkat, posisi. Manusia telah menghabiskan tahun-tahun umur hidupnya dan mengerahkan semua potensi, tenaga yang tidak terbatas untuk hal tersebut. Yang tentu tragisnya setelah ia meraih semua itu, ternyata semua akan lepas. Masalahnya sekarang adalah seberapa kita mau bertobat? Kita harus bertobat dari cara pikir kita yang sesat dan salah tersebut. Miliki langkah-langkah konkret untuk keluar dari irama hidup yang salah, yakni irama hidup yang fokusnya bukan menjadi orang yang berharga di mata Tuhan tetapi berharga di mata manusia dan berharga di mata kita sendiri. Ini yang harus kita perkarakan dan persoalkan dengan serius. Dimana setiap hari kita memiliki waktu untuk datang kepada Allah Bapa, Bapa yang mau mendidik kita. Kita datang kepada Tuhan Yesus yang adalah Guru kita yang mau mengajar. Dan mempersoalkan atau memperkarakan sampai sejauh mana kita telah mencapai kehidupan yang menyenangkan hati Tuhan, karena dinilai oleh Tuhan sebagai berharga.

Orang yang kematiannya berharga di mata Allah adalah orang yang hidupnya pun pasti berharga di mata Allah.