Berani Mempertaruhkan

Jadi ketika dikatakan dalam Roma 3:23 bahwa semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, sejatinya hal itu hendak mengatakan bahwa mestinya kita memiliki kemuliaan itu. Dan kalau Tuhan Yesus Kristus datang menyelamatkan kita, mestinya menemukan kemuliaan itu. Dan Tuhan Yesus menawarkannya. Namun masalahnya sekarang, apakah kita ikut jejak Adam dan Hawa yang meragukan Allah atau setia mengikut Tuhan Yesus? Dulu kita ragu-ragu untuk menjadi Kristen yang benar-benar militan. Kita takut menjadi orang Kristen yang ekstrem dan fanatik. Maka kita menjadi orang Kristen yang mengalami “penghalusan;” tidak menjadi Kristen orisinal. Kristen yang “dihaluskan,” dalam arti Kristen yang telah menjadi Kristen palsu. Jadi pendeta, terhormat, ia bisa mengalami penghalusan. Padahal, seorang pelayan Tuhan harus melayani. Jangan sampai kita meninggal dunia, tapi kita tidak dibentuk, tidak digarap oleh Allah, karena mengalami penghalusan tadi.

Kita harus belajar untuk mengalami perubahan tersebut. Jangan sampai kita meragukan Tuhan. Mungkin kita mengaku bahwa kita tidak meragukan Tuhan. Kalau benar kita tidak ragu, apa yang berani kita pertaruhkan? Artinya, seberapa kita telah berinvestasi dalam perjuangan menjadi anak-anak Allah? Bapa itu baik. Kebaikan-Nya jangan diukur dengan anak-anak yang sehat, lulus dari perguruan tinggi, mendapat pekerjaan yang baik. Itu berkat Tuhan, tapi jangan mengukur kebaikan Tuhan hanya di situ. Jangan mengukur kebaikan Tuhan hanya pada mukjizat, walaupun kita memerlukan mukjizat. Tapi mari kita melihat kebenaran Firman Tuhan bahwa Allah baik dimana Allah berkenan menjadikan kita anak-anak Allah. Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang Mahamulia berkenan dipanggil “Bapa.”

Sejatinya, menjadi kekhawatiran kita ketika kita tidak mampu menghayati identitas diri kita sebagai anak-anak Allah karena kita tidak berjalan bersama Tuhan dengan benar. Menjadi anak Allah adalah kesempatan luar biasa. Kebaikan Allah dibuktikan dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, memikul dosa kita, membenarkan kita di hadapan Allah, melengkapi kita dengan Roh Kudus, menyediakan Injil Kerajaan Allah yang berkuasa menyelamatkan kita atau yang membebaskan kita. Seberapa kita bertaruh dan memberikan respons terhadap karya Allah ini? Namun faktanya, hampir semua orang berlaku demikian; tidak melihat bahwa proses keselamatan yang mau mengembalikan kita ke rancangan Allah semula untuk menemukan kemuliaan Allah itu sebagai hal yang bernilai sangat tinggi. Akibatnya, banyak orang Kristen tidak berani mempertaruhkan hidupnya sepenuh untuk itu. Jangan jadi Kristen sejak kecil, tapi kita tidak berubah, tidak bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang menemukan kemuliaan Allah. Maka mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Seberapa saya telah menemukan kemuliaan itu?”

Orang yang menemukan kemuliaan Allah memiliki ciri yang berbeda dengan dunia. Makanya kalau kita mau memeriksa diri kita—apakah kita sudah menemukan kemuliaan Allah yang hilang itu atau belum—kita dapat membandingkan diri dengan cara berpikir anak dunia, gaya hidup anak dunia, obsesi, hasrat, cita-cita, dan gaya hidupnya. Apakah masih terdapat kemiripan? Kalau masih ada, berarti kita kemuliaan Allah yang ada pada kita masih rendah atau bahkan belum sama sekali. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.” Ayat ini dengan sangat tegas mengatakannya, lalu apakah kita mau menguranginya karena sudah begitu lama mengalami penghalusan? Kita tidak berani head-to-head dengan ayat ini secara sungguh-sungguh, bahwa kita tidak boleh serupa dengan dunia ini. Maka, kita harus jujur dengan diri kita sendiri; kita serupa dengan dunia ini, atau serupa dengan Tuhan Yesus yang adalah Anak Manusia yang telah menemukan kemuliaan Allah? Ingat, itu keniscayaan. Kita dipanggil sejak semula untuk serupa dengan Dia, untuk menemukan kemuliaan itu.

Jangan serupa dengan dunia ini, dan kita harus berani tidak serupa. Makanya, hati-hati dengan apa yang kita lihat. Tontonan atau film bisa mendistraksi pikiran kita. Bukan hanya film porno, melainkan film biasa pun bisa mengacaukan pikiran kita karena filosofi atau spirit yang dipancarkan salah. Firman Tuhan mengingatkan kita “berubahlah oleh pembaharuan budimu”. Budi kita bisa berubah, pikiran kita bisa berubah hanya oleh Firman. Jangan terdistraksi, dirusak, dikacaukan oleh apa yang membuat kita ini tidak bertumbuh. Cara berpikir orang-orang di sekitar kita jangan masuk dalam hidup dan pikiran kita. Pergaulan dimana kita berada sangat memengaruhi kita. Sebaliknya, hayati kehadiran-Nya, yang mana akan membuat kita tidak mudah atau hampir tidak bisa berbuat dosa.

Sumber kehadiran Allah dapat kita peroleh melalui: pertama, Firman. Kedua, doa; doa pribadi maupun bersama. Ketiga, percakapan dengan orang-orang yang takut akan Allah. Ini memperbaharui pikiran kita, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna, supaya tindakan kita selalu presisi. Setiap kali tindakan kita presisi, itu bisa menciptakan keharuman di hadapan Bapa. Mari kita terus ambisi untuk menjadi orang-orang yang bisa menyenangkan dan membahagiakan hati Allah. Jangan meragukan Tuhan, jangan mencurigai Tuhan, sebab ini yang membuat orang tidak berani militan dan menjadikan Tuhan segalanya dalam hidupnya. Sebaliknya, beranikan diri kita untuk memilih Tuhan; pilihan yang lahir dari hati yang tulus.

Faktanya, hampir semua orang tidak melihat bahwa proses keselamatan yang mau mengembalikan kita ke rancangan Allah semula untuk menemukan kemuliaan Allah itu sebagai hal yang bernilai sangat tinggi, sehingga orang tidak berani mempertaruhkan hidupnya sepenuh untuk itu.