Bekal Kekal

Dalam Mazmur 73:25, pemazmur berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Pemazmur hidup di zaman Perjanjian Lama yang belum mengenal Injil seperti kita. Tetapi dari ungkapan yang ditulisnya di ayat ini, menunjukkan pemahamannya mengenai hidup kekekalan yang luar biasa. Ketika pemazmur berkata, “siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau,” artinya “hanya Engkau yang bisa menjadi bekal perjalananku di kekekalan.” Lalu, ketika ia berkata, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” artinya “aku harus mempersiapkan bekal itu sejak di bumi.” Kita tidak mendadak langsung memiliki bekal itu kalau mati. Banyak orang, termasuk orang Kristen, yang berpikir bahwa nanti begitu mati, dia bertemu Tuhan, lalu Tuhan sudah bisa menjadi bekalnya. Ini sesat. Pasti orang-orang seperti itu tidak dikenal oleh Tuhan. Orang yang dikenal oleh Tuhan adalah orang-orang yang sejak di bumi “mengingini Engkau sebagai satu-satunya kebutuhan. “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” berarti “hanya Engkaulah yang menjadi kebutuhanku, yang menjadi kesukaanku.”

Untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan, hati kita tidak boleh dan memang tidak bisa terikat dengan dosa atau percintaan dunia. Tuhan adalah Allah yang Mahamurah, benar. Tapi bukan Tuhan yang murahan. Tuhan menghendaki agar kita bisa memiliki Tuhan. Maka, kalau kita benar-benar mau punya keinginan seperti itu, kita tidak boleh menaruh keinginan untuk hal yang lain, sehingga kita bisa memiliki Dia. Ketika kita benar-benar tidak memiliki kesenangan apa pun, tapi kesenangan kita hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya, di situ kita merasa tidak memiliki tempat lain di mana kita merasa nyaman dan tenang selain hadirat Tuhan. Hal ini juga yang membuat kita tahan berdoa lama. Walaupun mungkin banyak yang kita miliki, tapi kita merasa tidak memiliki apa-apa dan merasa tidak memiliki siapa-siapa. Kita memang punya orangtua, punya anak, punya pasangan hidup, tapi kalau sudah berurusan dengan Tuhan, kita harus berkata, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Oleh karenanya Tuhan berkata, “kalau kamu tidak membenci ayahmu, ibumu, saudaramu laki-laki, saudaramu perempuan, bahkan nyawamu sendiri, kamu tidak layak bagi-Ku.” Memang kalau sudah urusan dengan Tuhan, yang lain menjadi tidak berarti. Karena cinta kita kepada Tuhan lebih dari cinta kita kepada siapa pun dan apa pun, sampai kita bisa merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki siapa-siapa, kita baru bisa betah lama di kaki Tuhan.

Kita bisa mengingini Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan, kalau kita benar-benar mengarahkan diri kepada-Nya. Kalau kita ingin masuk Kerajaan Surga dan diterima sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, sadari bahwa tidak ada yang bisa kita bawa. Apa pun dan siapa pun, selain Tuhan. Untuk itu, ingini dan miliki Tuhan. Untuk mengingini dan memiliki-Nya, kita harus bersedia melepaskan segala ikatan. Tetapi pada umumnya, seseorang tidak akan bisa berkata begitu di ujung mautnya kalau memang hari demi harinya tidak sungguh-sungguh mengagendakan ini, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Segala yang kita kerjakan dan bisa kita raih selama kita hidup di bumi, kita lakukan dan persembahkan untuk Dia. Hidup seperti ini yang dikatakan sebagai “berjalan dengan Tuhan.” Dimana keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa berjalan dengan Dia. Allah itu hidup, Allah itu nyata, Allah itu bisa dijalani. Berurusan dengan Tuhan itu bukan seperti masuk ruang museum. Kalau seseorang masuk ruang museum, dia melihat senapan yang pernah dibawa oleh Jendral Sudirman, maka ia hanya sampai tahap mengagumi dan tidak berbuat yang lain. Tetapi kalau kita berurusan dengan Tuhan, kita bertemu dengan Pribadi yang hidup. Dimana Ia berkenan menggoreskan sejarah bersama dengan kita. Kita masih terlibat dalam rencana Allah yang sama, yang belum usai hari ini. Mengagumkannya, kita adalah bagian dari rencana-Nya tersebut. Allah sebagai Pelaku Sejarah masih hidup dan tetap hidup selamanya. Ia menghendaki keterlibatan kita di dalam rencana-Nya.

Jadi, jangan merasa gagal, walau kita tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa, dan memang nanti tidak membawa apa-apa dan tidak membawa siapa-siapa. Yang kita perlukan hanya Tuhan sebagai bekal memasuki kekekalan. Maka, temukan Tuhan, berjalanlah bersama Tuhan. Jangan tenggelam dalam kebahagiaan rumah tangga, karier, hobi, dan segala kesibukan lainnya. Menikmati kebahagiaan bersama pasangan hidup dan anak-anak tidak salah, tapi jangan tenggelam di situ sampai Tuhan tereliminilasi atau tersisih. Mereka lupa bahwa yang akan dibawa sebagai bekal itu bukan suami, istri, atau anak, tetapi Tuhan. Sehingga kita bisa lanjut berkata, “sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Kita harus membakar gelora jiwa kita untuk hal ini. Ketika kita berniat demikian, Tuhan memberkati kita dengan pengalaman-pengalaman pahit yang harus kita lalui; yang mematangkan dan memurnikan cinta kita kepada Tuhan. Ingatlah, bahwa kita bukan seperti hewan yang hari ini hidup, besok mati, selesai. Kita adalah makhluk kekal yang hari ini hidup, setelah mati, kita menghadap Tuhan. Manusia memerlukan bekal sebelum hari akhirnya tiba. Oleh karenanya pemazmur mengajarkan kepada kita bekal kekal ini, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.”

Jangan merasa gagal, walau kita tidak punya apa-apa dan tidak punya siapa-siapa, yang kita perlukan hanya Tuhan sebagai bekal memasuki kekekalan.