Bejana Hancur

Kita harus merenungkan bahwa di jagat raya ini tidak ada dua orang yang sama persis, apalagi tiga, apalagi empat. Setiap individu memiliki keberadaan yang benar-benar unik dan sangat istimewa, karena tidak ada duanya. Kalau hal ini kita mengerti dan kita benar-benar menghayatinya, akan membangkitkan kekaguman kita terhadap tangan Sang Khalik yang hebat. Jadi, tidak mungkin tidak ada Tuhan. Di dalam kebijaksanaan-Nya dan kemampuan-Nya membuat variasi dari keberadaan masing-masing individu, menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mengerti hal ini, kita tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain. Sebab, setiap kita tidak ada bandingannya. Orang yang berusaha membandingkan dirinya dengan orang lain adalah orang yang tidak mengerti dan tidak menerima kebesaran serta keagungan Allah yang menciptakan setiap kita dengan keunikan dan keistimewaan masing-masing.

Perhatikan bagaimana orang berusaha untuk selalu memakai barang yang up to date, yang dasarnya adalah ingin menjadi seseorang yang lebih dari orang lain agar bisa membanggakan diri. Padahal, tanpa sesuatu yang bersifat materi tersebut, keadaannya sendiri sudah unik. Di situ, dia memuat rancangan Allah yang harus dipenuhi. Jadi, bukan hanya mereka yang memiliki kelebihan harus memikirkan hal ini, tapi siapa pun kita dengan keadaan unik dan istimewa itu harus menyadari bahwa kita memikul tanggung jawab yang harus kita penuhi. Jadi kalau kita mengerti bahwa masing-masing kita ini istimewa, unik, kita tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menjadi sombong atau merendahkan atau menghina orang lain, sebab Tuhan memberikan kepada kita masing-masing porsi yang benar-benar sempurna menurut pertimbangan dan kebijaksanaan-Nya. Karena masing-masing kita memiliki keadaan yang unik, kita harus membawa keadaan diri kita kepada Tuhan untuk memperkarakan: dengan manusia model ini, apa yang Kau kehendaki harus kulakukan, Tuhan? Dengan keadaan seperti ini, sebenarnya apa rancangan-Mu dalam hidupku?

Memang pada umumnya dalam kehidupan ini manusia itu adalah makhluk yang ada dalam proses meniru. Dari generasi ke generasi, proses ini berlangsung secara otomatis. Pola pikir dan gaya hidup seseorang pada umumnya meniru apa yang dilakukan orang sebelumnya. Apa yang dia lihat dari lingkungannya, dan ini yang disebut “cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang” (1Ptr.1:18-19). Tapi ketika kita dipanggil menjadi anak-anak Allah, kita harus keluar dari cara hidup yang sia-sia itu, yang tidak sesuai dengan rancangan dan kehendak Allah. Kita harus membawa diri kita kepada Tuhan dan membawa hidup kita, dan memperkarakan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita dengan keadaan kita seperti ini. Karena kita telah terbawa oleh proses meniru, yang terjadi adalah banyak orang membangun gambar diri yang salah. Kita dilahirkan dengan keadaan orisinal, jangan mati dalam keadaan imitasi.

Mungkin kita pernah mengambil keputusan yang salah. Banyak dosa yang telah kita lakukan, banyak tindakan yang benar-benar keliru telah kita ambil. Kita sudah menjadi manusia tidak seperti yang Allah kehendaki. Kita rusak, tetapi berbahagialah orang yang menyadari keadaannya yang rusak itu dan memberi diri dibentuk kembali, karena Sang Penjunan bisa mengubah kita. Dia masih bisa memberi kesempatan tanah liat yang hancur, berubah menjadi bejana yang indah. Oleh sebab itu, kita tidak memiliki pilihan lain. Kita harus menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya tujuan hidup kita. Hari ini, kalau kita berkeadaan seperti ini, maka: Pertama, kita menerima seluruh rangkaian yang ditetapkan Tuhan, yang merupakan hak prerogatif Tuhan. Kedua, menerima semua keadaan yang disebabkan oleh keputusan atau pilihan yang salah. Kita berterima kasih kepada Tuhan. Oleh kesabaran-Nya, Ia menuntun hidup kita sehingga kita sampai ada dalam keadaan seperti hari ini. Ketiga, jangan menuntut apa yang bukan bagian kita.

Ingat, kita tidak bertanggung jawab kepada manusia mana pun, tetapi kita bertanggung jawab kepada Tuhan. Oleh karena itu, jangan sombong. Siapa pun kita, sehebat apa pun kita, itu tidak memberi nilai di hadapan Tuhan. Yang memberi nilai adalah ketika kita mati dalam keadaan orisinal, sesuai rancangan Allah semula. Kita telah meleset jauh. Jadi, kalau kita masih berkesempatan pulang, mari kita pulang. Mari kita mengisi hari hidup kita untuk diubah Tuhan. Jangan meratapi dan menyesali apa yang sudah terjadi, tapi syukuri walaupun keadaan itu buruk. Dan serahkan diri kita dalam tangan Tuhan untuk dibentuk-Nya kembali. Inilah waktunya kita mengambil keputusan. Kita menggoreskan sejarah baru dalam kehidupan kita. Sejarah baru yang akan diteruskan di kekekalan.

Berbahagialah orang yang menyadari keadaannya yang rusak dan memberi diri dibentuk kembali, karena Sang Penjunan bisa mengubah kita.