Autorefleks

Dalam Matius 9:12-13 dikatakan, “Yesus mendengarnya dan berkata: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” Pasti semua kita pernah meminta sesuatu kepada Tuhan; baik itu menyangkut masalah kesehatan, keuangan, rumah tangga dan lain sebagainya. Tetapi pernahkah kita sungguh-sungguh memohon belas kasihan Tuhan untuk kesembuhan jiwa kita?  

Mengatakan hal ini, bukan berarti kita sakit jiwa seperti orang gila, yang sekarang dirawat di rumah sakit gila. Tetapi sejatinya, jiwa kita belum utuh, karakter kita belum sesuai dengan kehendak Allah, dan patut kita mempersoalkan hal ini dengan sungguh-sungguh. Bagaimana tahu bahwa kita masih sakit jiwa? Coba teliti, ada autorefleks yang kita miliki, yang memang tidak dipersiapkan tetapi sudah menjadi karakter yang mendarah daging. Auto berarti otomatis dari diri sendiri; refleks berarti tidak disengaja. 

Misalnya dalam percakapan, kita mau menunjukkan keberhasilan dalam bisnis, kekayaan, merek arloji, pengalaman pernah pergi ke mana-mana. Saat berkendaraan, mobil kita dipotong, maka secara autorefleks marah. Ketika mendengar sesuatu tentang kita atau orang mengucapkan kalimat yang melukai kita, autorefleks tersinggung, sakit hati. Masing-masing kita berbeda, karena kelemahan masing-masing orang juga berbeda. Tetapi kita harus menyadari keberadaan tersebut. Sehingga, autorefleks dari hal yang negatif berubah menjadi hal yang positif. 

Saat ditabrak orang, kita tidak marah lagi, melainkan bertanya, “Ada apa ya? Mungkin perlu ditolong?” autorefleksnya positif. Ketika dilukai orang, autorefleksnya adalah “Tuhan mendewasakan aku. Terimakasih Tuhan.” Kita harus menyadari, bahwa inilah yang harus dibereskan lebih dari masalah ekonomi, masalah kesehatan fisik bahkan lebih dari segala sesuatu.

Maka, sejak sekarang kita harus mulai menggumuli hal ini. Mengapa Tuhan izinkan kita mengalami berbagai persoalan-persoalan hidup? Supaya autorefleks bisa kita kenali; kalau tidak ada masalah, kita tidak tahu di mana kelemahan kita. Dan kalau jiwa kita masih belum utuh, kita tidak layak menjadi mempelai Tuhan. Kita memiliki cacat karakter yang kita miliki dari: yang pertama, gen. Kalau orangtuanya memang orang yang suka tersinggung, mudah sakit hati anaknya juga. Kalau dalam ilmu kedokteran dikenal dengan istilah ‘kromosom,’ yang memberi watak karakter kita. 

Yang kedua, lingkungan. Jika waktu kecil sering diperlakukan tidak adil, maka ketika seseorang membuang muka, kita merasa direndahkan. Padahal belum tentu dia merendahkan, mungkin saja dia tidak melihat keberadaan kita. 

Iblis melihat di mana cacat karakter kita, maka Iblis akan menyediakan umpan sesuai dengan kelemahan kita supaya sakit jiwa kita bertambah, cacat karakter kita semakin akut, semakin parah sampai tidak bisa diperbaiki, dan tidak pernah merindukan Kerajaan Surga.  

Contoh sederhana, kalau kita disakiti orang, autorefleks kita marah. Tetapi kita berkata, “Tidak apa-apa,” walau masih terpaksa, masih belum tulus. Namun lambat-laun temperamen gampang marah, gampang tersinggung akan makin pudar sampai akhirnya mati. Allah mengizinkan. Bagi Iblis umpan itu membuat sesorang tambah rusak, tetapi Tuhan pakai untuk menyembuhkan. Jadi, kesempatan berbuat dosa sebenarnya juga kesempatan untuk menyenangkan Tuhan, kalau kita tidak melakukan dosa itu. Kita bahkan bisa dibawa kepada satu situasi yang sulit sekali, tidak ada jalan keluar, tetapi itu sebenarnya menyembuhkan sakit jiwa kita.

Menjadi Kristen itu sekolah, dalam persoalan hidup itulah proses belajar dan sekaligus proses perubahan.  Kita harus mengerti dan menjadi cerdas. Semakin besar masalah yang kita hadapi, sebenarnya sebuah proses pemulihan yang diharapkan lebih cepat, supaya kita juga cepat dipulihkan. Ketika kita punya masalah ekonomi, pasti Tuhan tolong, pasti ada jalan keluarnya, pasti nanti akan dipulihkan. Jangan mencari dan memaksa buru-buru memperoleh jalan keluar dari masalah ekonomi. Tetapi cari tahu apa yang Tuhan mau kerjakan dalam hidup kita melalui masalah ekonomi itu.

Tuhan itu kaya, Tuhan punya segala kuasa, Tuhan sanggup menyembuhkan segala penyakit dengan sangat mudah, memberi jalan keluar dengan sangat mudah. Tetapi yang tidak bisa dikerjakan oleh Tuhan tanpa kerelaan kita adalah cacat karakter kita yang harus diubah. Tuhan tidak bisa mengotak-atik, karena ini di luar tatanan Tuhan. Masing-masing orang diberi kebebasan, mau jadi baik atau jadi jahat. Kalau Tuhan bisa mengotak-atik orang masuk surga karena Tuhan, orang masuk neraka pun karena Tuhan, maka ini berarti Tuhan tidak adil. 

Dalam keadilan-Nya, Tuhan memberi kebebasan kepada kita; mau jadi orang baik atau orang jahat, jiwa kita mau sembuh atau tetap sakit, karakter kita mau diperbaiki utuh atau tetap rusak. Masalahnya, banyak orang sibuk dengan banyak kesibukan sampai dia lupa menggarap dirinya, yang hanya memiliki 70 tahun kesempatan. Jangan sampai kita kehabisan kesempatan! Jadi kalau kita datang berurusan dengan Tuhan, kita harus menyadari bahwa kita adalah orang sakit. 

Kita harus menyadari keberadaan kita yang belum utuh, sehingga, autorefleks kita yang negatif berubah menjadi positif.