Alat Kemuliaan

Betapa mengagumkan kesabaran, pengertian, penerimaan Tuhan atas kita. Dan Penjunan yang Mahahebat dan Mahacerdas ini, dalam kesabaran-Nya, mau membentuk kita, mau mengubah kita. Oleh sebab itu, kemurahan Tuhan yang begitu besar, tidak boleh kita sia-siakan. Jangan sampai kita sia-siakan. Tuhan mengampuni kita, menerima kita, lalu membentuk kita. Yeremia 18:4, “Apabila bejana yang dibentuk-Nya itu rusak atau gagal, dibentuk-Nya kembali menjadi bejana yang lain.” Jadi, jangan menyia-nyiakan anugerah ini selagi kita masih memiliki kesempatan untuk dibentuk dan diproses. 

Tuhan ingin kita ini menjadi alat kemuliaan-Nya di kekekalan. Di kekekalan nanti, menjadi bejana indah yang bersama-sama dengan Bapa. Di sana ada kehidupan. Tetapi, kita sudah terbentuk sejak kita di bumi ini, menjadi alat kemuliaan-Nya, menjadi irama yang tetap, yang ajeg, yang permanen. Natural, bukan dibuat-buat. Dan ini kita bawa di kekekalan. Maka untuk menjadi orang yang iramanya ajeg, permanen, baik, itu perlu waktu. Yang tadinya jalan oleng-oleng, lalu jalannya jadi lurus, perlu perubahan dan waktu. Jangan sampai saat meninggal dunia, jalannya masih oleng. Sehingga tidak bisa masuk ke dalam Rumah Bapa yang agung, kudus, dan mulia. 

Roh Kudus pasti berbicara kepada kita. Roh Kudus akan ‘mengupas’ kita seperti bawang. Dikupas lagi, lalu dikupas lagi, selapis demi selapis sampai habis. Kita sering tidak tahu, tapi sekarang kita tahu bahwa ada kemunafikan, kesombongan, ambisi yang terselubung, dan lain-lain, dalam lingkungan hidup kita. Bagi pendeta di lingkungan pelayanan, biasanya tidak menyadari keadaan itu. Semoga suatu hari kita bisa sampai pada titik dimana kita optimis bisa sempurna seperti Yesus. Sampai kita berkata, “hari ini aku akan mulai serupa dengan Yesus. Hari ini aku bisa.” Walaupun hari itu rasanya belum memuaskan, esok harinya lagi, “hari ini aku bisa.” 

Dulu kita tidak berani berkata begitu. Tidak mampu, karena memang faktanya kita jatuh bangun dan kita masih kompromi dengan kesalahan-kesalahan kita atau masih tidak tegas terhadap dosa. Tetapi ketika kita mulai tegas, kita bergumul, irama kita makin tetap, kita bisa. “Hari ini aku bisa serupa Yesus. Hari ini aku mulai, bisa.” Dan itu optimis sekali, walaupun kenyataannya ada melesetnya. Besoknya begitu lagi, “aku bisa hari ini.” Dan itu benar-benar membahagiakan. Alat kemuliaan Allah—kalau kita standar SNI—ini “Standar Kerajaan Allah” (SKA). SKA kita itu Tuhan Yesus. Jadi, harus benar-benar memperkarakan dan disibukkan dengan hal ini. 

Apakah boleh jika standarnya dikurangi? Tidak bisa. Kita harus mengerti, kita harus menjadi cerdas. Sebagaimana sering orang berkata: “kita tidak bisa sempurna seperti Tuhan Yesus,” memang mungkin tidak bisa, karena persoalannya berbeda. Beban yang dipikul Yesus berbeda dengan beban kita. Kita tidak bisa memikulnya jika disamakan bobotnya. Tetapi, yang penting lulus. Jadi, sama seperti Yesus, apanya? Lulusnya. Soalnya saja yang berbeda; berat atau bobot persoalannya memang tidak akan bisa sama atau tidak mungkin sama.

Jadi kalau Standar Kerajaan Allah itu Yesus, apakah bisa kita capai? Bisa. Kenapa tidak bisa? Tuhan tidak akan mengizinkan kita mengalami keadaan atau menghadapi persoalan, pencobaan yang tidak bisa kita pikul. Kalau Tuhan Yesus itu misalnya memikul 1000 ton, mungkin kita hanya 10 ton atau 100 ton. Tapi, kita bisa lulus. Berhasil jadi alat kemuliaan Allah juga. Kalau ombak yang harus dilewati Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, tingginya 6 meter, mungkin kita hanya setengah meter. Tapi yang penting tetap bisa kita lewati. Kita tetap bisa menjadi alat kemuliaan Allah sesuai dengan keadaan kita masing-masing dan di mana pun kita berada. 

Jadi kalau ada orang berkata, “kita tidak mungkin sempurna seperti Yesus,” harus dijelaskan dulu “sempurna itu apa?” Sempurna berarti lengkap, utuh, lulus. Kita tidak bisa sempurna seperti Yesus, karena persoalannya berbeda. Tapi, kita bisa sempurna seperti Yesus, karena kita punya pencobaan tidak sebesar yang Tuhan Yesus alami. Kalau Tuhan Yesus harus memiliki kemampuan bercahaya 1000 watt itu baru bisa menerangi, kita harus punya 200 watt, sebab lingkungan kita situasinya begitu. Untuk orang lain mungkin, tidak perlu sampai seperti kita, cukup 50 watt. 

Standarnya, tetap seperti Yesus dalam arti lulus. Tapi soalnya berbeda, karena keadaan yang dialami masing-masing kita berbeda. Jadi, sekarang kita persoalkan di tempat kita berada ini, apakah kita sudah menampilkan keagungan atau kemuliaan Allah, atau belum? Ini masalahnya. Tuhan akan menggarap kita sampai kita menjadi bejana yang indah. Atau kalau digambarkan sebagai pelita, samapi kita terang-benderang dan terlihat. Kalau digambarkan atau diibaratkan bom, kita “meledak.” Sirkuitnya, Tuhan yang atur. Tugas kita hanya taat kepada-Nya.  

Kita tetap bisa menjadi alat kemuliaan Allah sesuai dengan keadaan kita masing-masing dan di mana pun kita berada.